Habibie dan Ainun
Setelah 7 tahun tidak pernah
bertemu, akhirnya Habibie dan Ainun bertemu kembali. Saat Habibie mengajak
Ainun jalan-jalan dengan memberanikan diri Habibie mengungkapkan perasaannya
kepada Ainun.
Pada bulan Mei 1962 Habibie dan Ainun menikah. Setelah
pernikahannya, Habibie mengajak Ainun ke Jerman. Disanalah mereka memulai
kehidupan bersama dengan keseharian Habibie yang begitu padat. Di sana Ainun
bekerja sebagai dokter. Habibie bekerja
diperusahaan konstruksi ringan. Dengan ilmu yang beliau dapat, beliau mempunyai
kesempatan untuk melakukan percobaan
pada kereta api, yaitu percobaan gerbong kereta api menahan beban
sebesar 200 ton. Akhirnya percobaan yang dilakukan Habibie berhasil. Beberapa
bulan kemudian, Ainun hamil. Habibie bahagia mengetahui bahwa Ainun hamil. Mereka
mempersiapkan nama untuk buah hati mereka. Jikalau pria, Habibie memilih nama
“Ilham Akbar” dan jikalau perempuan, Ainun memilih “Nadia Fitri”. Pada tanggal
16 Mei 1963, Ainun melahirkan anak laki-laki dan diberi nama “Ilham Akbar
Habibie”. Pada saat Habibie dengan Ainun berdiskusi, Habibie menceritakan
kepada Ainun bahwa pada saat Habibie sakit di Jerman, Habibie mempunyai sumpah
kepada Indonesia dengan maksud ingin mengandalkan keunggulan sumber daya
manusianya. Dengan penuh kebahagiaan, Ainun telah mengandung anak keduanya. Anak
kedua mereka lahir di Hamburg dan diberi nama “Thareq Kemal”.
Beberapa tahun di Jerman, akhirnya
keluarga Habibie kembali ke tanah air. Di Indonesia Ainun memanfaatkan waktu
untuk berkumpul dengan keluarganya dan teman-temannya. Setelah beberapa bulan
di Indonesia keluarga Habibie kembali ke Jerman. Sesampainya di Jerman, Habibie
bertemu dengan Dr.Ibnu Sutowo untuk membicarakan persiapan kader pembangunan di
Indonesia. Tanpa Ainun dan anak-anaknya,Habibie kembali ke Indonesia untuk
mejalankan amanat yaitu membangun Indonesia yang lebih unggul. Habibie yang
sudah berada di Indonesia, beliau bertemu dengan Presiden Soeharto. Dalam
pertemuannya, Presiden Soeharto menyerahkan semua persiapan untuk membangun
Indonesia lebih unggul kepada Habibie. Beberapa bulan di Indonesia, Habibie
kembali ke Jerman. Habibie mencerikan hasil pertemuannya dengan Presiden
Soeharto kepada Dr.Ludwig Bolkow dan Dr.Ludwig Bolkow merestui Habibie untuk
kembali ke Indonesia lagi. Akhirnya Habibie memutuskan untuk kembali ke
Indonesia. Habibie merencanakan program kerja di Indonesia dan bertemu dengan
para tokoh nasional Indonesia utnutk menjelaskan langkah pembangunan Indonesia.
Bukan Habibie saja yang aktif dalam pembangunan Indonesia, Ainun juga aktif
dalam organisasi-organisasi sosial. Baik Habibie maupun Ainun, mereka bekerja
keras memperhatikan SDM Indonesia. Pada tanggal 7 Desember 1990 Habibie dan
Ainun datang ke kampus Universitas Brawijaya untuk mendirikan ICMI. Dampak dari
berdirinya ICMI ini salah satunya adalah manusia Indonesia yang dulunya malu
mengaku dirinya bernafaskan islam, sekarang manusia Indonesia berani mengaku
dirinya bernafaskan islam. Peran ICMI di masa mendatang tentu saja akan tetap
semakin meningkat. ICMI telah dapat membuat pilar demi pilar untuk kepentingan
umat dan bangsa ini. Begitu juga harapan dalam perjalanan ICMI ke depan.
Habibie mempunyai keinginan untuk membuat
pesawat terbang di Indonesia. Akhirnya keinginan Habibie bisa terwujud. Pada
tanggal 10 Agustus 1995 peluncuran perdana pesawat N250 berhasil dilaksanakan. Pada
tahun 1996 berlangsung Indonesian Airshow, pada acara tersebut pesawat N250
diperkenalkan bagian-bagiannya. Setelah acara 17 Agustus 1996, Ainun bermasalah
pada pernafasan dan denyutan jantung. Habibie segera membawa Ainun ke Jerman ke
pusat keunggulan operasi Jantung di Bad Oeynhausen. Akhirnya Ainun di rawat di
Bad Oeynhausen. Habibie menjadi wakil presiden Republik Indonesia. Pada tanggal
11 Maret 1998 presiden Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden Rebuplik
Indonesia dan digantikan oleh Habibie. Pada masa pemerintahan Habibie banyak
masalah yang terjadi. Akhirnya Habibie memutuskan untuk tidak mencalonkan
sebagai presiden lagi. Saat Ainun sakit, Ainun melakukan proses penyembuhan
selama 10 tahun. Salah satu proses penyembuhannya adalah dengan bertempat
tinggal di daerah khatulistiwa untuk menyehatkan paru-paru Ainun dan berlayar
dengan kapal laut yang bertujuan untuk mendapatkan udara yang baik dan terjamin
bersih. Suatu hari,pada saat periksa ke dokter,Habibie mengetahui jika Ainun
terkena kanker ovarium stadium 4. Pada saat itu juga, Habibie segera mengajak
Ainun ke Jerman untuk melakukan operasi. Habibie setia mendampingi Ainun saat
di Rumah Sakit. Keadaan Ainun semakin memburuk. Setelah sudah 9 kali di
operasi, dokter tidak bisa menjamin kesembuhan Ainun. Habibie masih tetap ingin
Ainun di operasi,tetapi keluarga Ainun ingin operasi tersebut di hentikan. Pada
tanggal 12 Mei 2010, Habibie melepaskan Ainun. Sekarang mereka berbeda alam,
tetapi cinta mereka tetap murni,suci,sejati,sempurna,dan abadi.
Apa yang kita dapatkan
dari film “Habibie & Ainun” yang sekarang tengah diputar di berbagai
bioskop? Saya sendiri belum menonton dan tidak tertarik untuk
menontonnya. Membaca resensinya saja –seperti yang sudah diposting oleh
mbak Winda Maulida dan teman lainnya di Kompasiana – sudah membuat saya
menangis, apalagi kalau langsung menonton filmnya. Saya tidak
membayangkan akan berapa hari saya menangis. Seperti yang saya dengar
dari semua teman yang pernah menyaksikan film tersebut, mereka mengaku
menangis. Termasuk teman yang tidak biasa menangis.
Dikisahkan Habibie dan Ainun di masa remaja menempuh pendidikan di SMP
yang sama. Tahun demi tahun pun berlalu, hingga pada tahun 1962, mereka
berdua bertemu lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta pada Ainun yang
sudah berubah menjadi gadis cantik. Karena kecantikannya banyak pria
yang menaruh hati pada Ainun. Kebanyakan yang menyukai Ainun adalah pria
berpangkat dan kaya, tapi Habibie sama sekali tidak minder. Dengan
percaya diri ia datang ke rumah Ainun menggunakan becak sedangkan para
‘pesaingnya’ kebanyakan bermobil.
Ainun tidak silau dengan semua pangkat dan kekayaan, ia lebih memilih
Habibie dan menikah dengannya. Setelah menikah, mereka pergi ke Jerman.
Di sana Habibie menyelesaikan studi S3-nya dan berharap bisa kembali ke
Indonesia untuk bisa membuat pesawat terbang produksi anak bangsa
seperti janji yang pernah diucapkan ketika sakit.
Habibie yang dihormati di Jerman, ternyata tidak dihormati di negerinya
sendiri. Mimpi untuk membangun tanah air mengalami banyak hambatan.
Terpaksa ia bekerja di industri Kereta Api di Jerman. Sampai tiba
masanya Habibie memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Ia
kembali ke Indonesia dan mulai berkarya. Habibie sukses mengembangkan
teknologi di tanah air.
Kesuksesan Habibie mengabdikan diri pada negara, berdampak pada
keluarganya. Ia tak lagi memiliki waktu untuk keluarga, bahkan untuk
dirinya sendiri. Ia hanya sempat tidur satu jam setiap hari. Usai
melepas jabatan sebagai Presiden RI, ia kembali ke Jerman bersama Ainun.
Di Jerman mereka hidup lebih tenang dan damai. Tapi tak bertahan lama.
Ainun divonis menderita kanker ovarium stadium 4, memaksanya harus
dirawat di rumah sakit dan menjalankan operasi berkali-kali.
Selama sakit, Habibie dengan setia merawat Ainun dan menjaganya sampai
Ainun menutup mata. Sebuah perpisahan yang sangat berat bagi siapapun
yang saling mencinta.
Kebersamaan Yang Indah
Sangat mendalam kebersamaan Habibie dengan Ainun. Rasa cinta terhadap
sang istri sedemikian besar, hingga Habibie merasakan kekosongan dalam
relung jiwanya. Konon, kira-kira dua pekan setelah kematian Ainun, suatu
hari Habibie memakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir,
sambil memanggil “Ainun… Ainun…” Ia mencari Ainun di setiap sudut
rumah.
Ainun adalah perempuan istimewa di mata Habibie. Ia menepati janji untuk
selalu mendampingi Habibie sampai akhir hidupnya, di kala susah maupun
senang. Bahkan pada detik-detik terakhir menjelang kepergiannya, ia
tetap memikirkan Habibie. “Saya tidak bisa, saya tidak bisa berjanji
akan menjadi istri yang sempurna untukmu. Tapi saya akan selalu
mendampingimu, saya janji itu.” Itu janji Ainun ketika dilamar oleh
Habibie. Dan ia membuktikannya.
Episode Habibie dan Ainun adalah contoh keluarga yang mampu menjaga
kebersamaan hingga akhir usia. Sudah pasti, mereka juga diterpa berbagai
dinamika kehidupan layaknya pasangan lainnya. Namun Habibie dan Ainun
mampu bertahan dan menjaga kebersamaan yang begitu indah. Habibie
sebagai suami memiliki banyak kelemahan, sebagaimana suami lainnya.
Ainun sebagai istri juga memiliki banyak kekurangan, sebagaimana istri
lainnya. Namun mereka berdua mampu menjadi pasangan yang setia dan
bahagia hingga akhir usia.
Tidak perlu sempurna untuk menjadi pasangan yang setia dan bahagia.
Semua dari kita memiliki kelemahan dan kekurangan. Tidak ada suami yang
sempurna, sebagaimana tidak ada istri yang sempurna. Untuk itu, yang
diperlukan adalah kedewasaan sikap dalam menjalani kehidupan keluarga.
Setiap badai, setiap masalah, setiap tantangan, harus disikapi dengan
penuh kehati-hatian, agar tidak menggoyahkan kekokohan keluarga. Masalah
sebesar apapun akan terasa indah, apabila mampu disikapi dengan tepat
dan dilewati dengan kebersamaan.
Kita Hadapi Bersama
Di antara kunci menikmati kebersamaan adalah pada sikap suami dan istri
saat menghadapi permasalahan. “Kita hadapi bersama”, adalah kata
kuncinya. Persoalan suami dan istri harus dihadapi bersama, bukan saling
melempar kesalahan kepada pihak lainnya. Kadang suami merasa benar
sendiri, dan menganggap istri yang salah. Kadang istri merasa selalu
benar, dan suamilah yang salah. Sikap saling melempar ini tidak
produktif, karena menunjukkan ketidakdewasaan sikap hidup berkeluarga.
“Itu masalahmu sendiri, bukan masalahku”, ungkapan seperti ini
menandakan tidak adanya kebersamaan saat menghadapi permasalahan. Bahkan
seandainya masalah tersebut terkait pekerjaan di kantor, atau urusan
yang menyangkut jabatan, profesi, atau posisi di tempat kerja. Suami dan
istri tetap memiliki peran saling meringankan dengan berbagai cara yang
bijak. Bukan intervensi dalam sisi profesional atau jabatan, tetapi
intervensi dalam kaitan moral. Sebagai suami istri, yang harus saling
berbagi, saling meringankan beban, saling membantu dan menjaga.
Masalah apapun akan lebih ringan dihadapi, apabila suami dan istri mampu
menjaga sikap “kita hadapi bersama”. Sikap ini menunjukkan kuatnya
kebersamaan antara suami dan istri. “Ini masalah kita, maka mari kita
hadapi bersama”. Alangkah indah sikap seperti ini. Sebuah kedewasaan
dalam menjalani hidup bersama di dalam rumah tangga. Suami dan istri
saling bergandengan tangan, melewati hari-hari penuh kebahagiaan, karena
mereka mampu merawat kebersamaan
Today Deal $50 Off :
https://goo.gl/efW8Ef
Dikisahkan Habibie dan
Ainun di masa remaja menempuh pendidikan di SMP yang sama. Tahun demi
tahun pun berlalu, hingga pada tahun 1962, mereka berdua bertemu lagi di
Bandung. Habibie jatuh cinta pada Ainun yang sudah berubah menjadi
gadis cantik. Karena kecantikannya banyak pria yang menaruh hati pada
Ainun. Kebanyakan yang menyukai Ainun adalah pria berpangkat dan kaya,
tapi Habibie sama sekali tidak minder. Dengan percaya diri ia datang ke
rumah Ainun menggunakan becak sedangkan para ‘pesaingnya’ kebanyakan
bermobil.
Ainun tidak silau dengan semua pangkat dan kekayaan, ia lebih memilih
Habibie dan menikah dengannya. Setelah menikah, mereka pergi ke Jerman.
Di sana Habibie menyelesaikan studi S3-nya dan berharap bisa kembali ke
Indonesia untuk bisa membuat pesawat terbang produksi anak bangsa
seperti janji yang pernah diucapkan ketika sakit.
Habibie yang dihormati di Jerman, ternyata tidak dihormati di negerinya
sendiri. Mimpi untuk membangun tanah air mengalami banyak hambatan.
Terpaksa ia bekerja di industri Kereta Api di Jerman. Sampai tiba
masanya Habibie memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Ia
kembali ke Indonesia dan mulai berkarya. Habibie sukses mengembangkan
teknologi di tanah air.
Kesuksesan Habibie mengabdikan diri pada negara, berdampak pada
keluarganya. Ia tak lagi memiliki waktu untuk keluarga, bahkan untuk
dirinya sendiri. Ia hanya sempat tidur satu jam setiap hari. Usai
melepas jabatan sebagai Presiden RI, ia kembali ke Jerman bersama Ainun.
Di Jerman mereka hidup lebih tenang dan damai. Tapi tak bertahan lama.
Ainun divonis menderita kanker ovarium stadium 4, memaksanya harus
dirawat di rumah sakit dan menjalankan operasi berkali-kali.
Selama sakit, Habibie dengan setia merawat Ainun dan menjaganya sampai
Ainun menutup mata. Sebuah perpisahan yang sangat berat bagi siapapun
yang saling mencinta.
Kebersamaan Yang Indah
Sangat mendalam kebersamaan Habibie dengan Ainun. Rasa cinta terhadap
sang istri sedemikian besar, hingga Habibie merasakan kekosongan dalam
relung jiwanya. Konon, kira-kira dua pekan setelah kematian Ainun, suatu
hari Habibie memakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir,
sambil memanggil “Ainun… Ainun…” Ia mencari Ainun di setiap sudut
rumah.
Ainun adalah perempuan istimewa di mata Habibie. Ia menepati janji untuk
selalu mendampingi Habibie sampai akhir hidupnya, di kala susah maupun
senang. Bahkan pada detik-detik terakhir menjelang kepergiannya, ia
tetap memikirkan Habibie. “Saya tidak bisa, saya tidak bisa berjanji
akan menjadi istri yang sempurna untukmu. Tapi saya akan selalu
mendampingimu, saya janji itu.” Itu janji Ainun ketika dilamar oleh
Habibie. Dan ia membuktikannya.
Episode Habibie dan Ainun adalah contoh keluarga yang mampu menjaga
kebersamaan hingga akhir usia. Sudah pasti, mereka juga diterpa berbagai
dinamika kehidupan layaknya pasangan lainnya. Namun Habibie dan Ainun
mampu bertahan dan menjaga kebersamaan yang begitu indah. Habibie
sebagai suami memiliki banyak kelemahan, sebagaimana suami lainnya.
Ainun sebagai istri juga memiliki banyak kekurangan, sebagaimana istri
lainnya. Namun mereka berdua mampu menjadi pasangan yang setia dan
bahagia hingga akhir usia.
Tidak perlu sempurna untuk menjadi pasangan yang setia dan bahagia.
Semua dari kita memiliki kelemahan dan kekurangan. Tidak ada suami yang
sempurna, sebagaimana tidak ada istri yang sempurna. Untuk itu, yang
diperlukan adalah kedewasaan sikap dalam menjalani kehidupan keluarga.
Setiap badai, setiap masalah, setiap tantangan, harus disikapi dengan
penuh kehati-hatian, agar tidak menggoyahkan kekokohan keluarga. Masalah
sebesar apapun akan terasa indah, apabila mampu disikapi dengan tepat
dan dilewati dengan kebersamaan.
Kita Hadapi Bersama
Di antara kunci menikmati kebersamaan adalah pada sikap suami dan istri
saat menghadapi permasalahan. “Kita hadapi bersama”, adalah kata
kuncinya. Persoalan suami dan istri harus dihadapi bersama, bukan saling
melempar kesalahan kepada pihak lainnya. Kadang suami merasa benar
sendiri, dan menganggap istri yang salah. Kadang istri merasa selalu
benar, dan suamilah yang salah. Sikap saling melempar ini tidak
produktif, karena menunjukkan ketidakdewasaan sikap hidup berkeluarga.
“Itu masalahmu sendiri, bukan masalahku”, ungkapan seperti ini
menandakan tidak adanya kebersamaan saat menghadapi permasalahan. Bahkan
seandainya masalah tersebut terkait pekerjaan di kantor, atau urusan
yang menyangkut jabatan, profesi, atau posisi di tempat kerja. Suami dan
istri tetap memiliki peran saling meringankan dengan berbagai cara yang
bijak. Bukan intervensi dalam sisi profesional atau jabatan, tetapi
intervensi dalam kaitan moral. Sebagai suami istri, yang harus saling
berbagi, saling meringankan beban, saling membantu dan menjaga.
Masalah apapun akan lebih ringan dihadapi, apabila suami dan istri mampu
menjaga sikap “kita hadapi bersama”. Sikap ini menunjukkan kuatnya
kebersamaan antara suami dan istri. “Ini masalah kita, maka mari kita
hadapi bersama”. Alangkah indah sikap seperti ini. Sebuah kedewasaan
dalam menjalani hidup bersama di dalam rumah tangga. Suami dan istri
saling bergandengan tangan, melewati hari-hari penuh kebahagiaan, karena
mereka mampu merawat kebersamaan.
Today Deal $50 Off :
https://goo.gl/efW8Ef
Dikisahkan Habibie dan
Ainun di masa remaja menempuh pendidikan di SMP yang sama. Tahun demi
tahun pun berlalu, hingga pada tahun 1962, mereka berdua bertemu lagi di
Bandung. Habibie jatuh cinta pada Ainun yang sudah berubah menjadi
gadis cantik. Karena kecantikannya banyak pria yang menaruh hati pada
Ainun. Kebanyakan yang menyukai Ainun adalah pria berpangkat dan kaya,
tapi Habibie sama sekali tidak minder. Dengan percaya diri ia datang ke
rumah Ainun menggunakan becak sedangkan para ‘pesaingnya’ kebanyakan
bermobil.
Ainun tidak silau dengan semua pangkat dan kekayaan, ia lebih memilih
Habibie dan menikah dengannya. Setelah menikah, mereka pergi ke Jerman.
Di sana Habibie menyelesaikan studi S3-nya dan berharap bisa kembali ke
Indonesia untuk bisa membuat pesawat terbang produksi anak bangsa
seperti janji yang pernah diucapkan ketika sakit.
Habibie yang dihormati di Jerman, ternyata tidak dihormati di negerinya
sendiri. Mimpi untuk membangun tanah air mengalami banyak hambatan.
Terpaksa ia bekerja di industri Kereta Api di Jerman. Sampai tiba
masanya Habibie memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Ia
kembali ke Indonesia dan mulai berkarya. Habibie sukses mengembangkan
teknologi di tanah air.
Kesuksesan Habibie mengabdikan diri pada negara, berdampak pada
keluarganya. Ia tak lagi memiliki waktu untuk keluarga, bahkan untuk
dirinya sendiri. Ia hanya sempat tidur satu jam setiap hari. Usai
melepas jabatan sebagai Presiden RI, ia kembali ke Jerman bersama Ainun.
Di Jerman mereka hidup lebih tenang dan damai. Tapi tak bertahan lama.
Ainun divonis menderita kanker ovarium stadium 4, memaksanya harus
dirawat di rumah sakit dan menjalankan operasi berkali-kali.
Selama sakit, Habibie dengan setia merawat Ainun dan menjaganya sampai
Ainun menutup mata. Sebuah perpisahan yang sangat berat bagi siapapun
yang saling mencinta.
Kebersamaan Yang Indah
Sangat mendalam kebersamaan Habibie dengan Ainun. Rasa cinta terhadap
sang istri sedemikian besar, hingga Habibie merasakan kekosongan dalam
relung jiwanya. Konon, kira-kira dua pekan setelah kematian Ainun, suatu
hari Habibie memakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir,
sambil memanggil “Ainun… Ainun…” Ia mencari Ainun di setiap sudut
rumah.
Ainun adalah perempuan istimewa di mata Habibie. Ia menepati janji untuk
selalu mendampingi Habibie sampai akhir hidupnya, di kala susah maupun
senang. Bahkan pada detik-detik terakhir menjelang kepergiannya, ia
tetap memikirkan Habibie. “Saya tidak bisa, saya tidak bisa berjanji
akan menjadi istri yang sempurna untukmu. Tapi saya akan selalu
mendampingimu, saya janji itu.” Itu janji Ainun ketika dilamar oleh
Habibie. Dan ia membuktikannya.
Episode Habibie dan Ainun adalah contoh keluarga yang mampu menjaga
kebersamaan hingga akhir usia. Sudah pasti, mereka juga diterpa berbagai
dinamika kehidupan layaknya pasangan lainnya. Namun Habibie dan Ainun
mampu bertahan dan menjaga kebersamaan yang begitu indah. Habibie
sebagai suami memiliki banyak kelemahan, sebagaimana suami lainnya.
Ainun sebagai istri juga memiliki banyak kekurangan, sebagaimana istri
lainnya. Namun mereka berdua mampu menjadi pasangan yang setia dan
bahagia hingga akhir usia.
Tidak perlu sempurna untuk menjadi pasangan yang setia dan bahagia.
Semua dari kita memiliki kelemahan dan kekurangan. Tidak ada suami yang
sempurna, sebagaimana tidak ada istri yang sempurna. Untuk itu, yang
diperlukan adalah kedewasaan sikap dalam menjalani kehidupan keluarga.
Setiap badai, setiap masalah, setiap tantangan, harus disikapi dengan
penuh kehati-hatian, agar tidak menggoyahkan kekokohan keluarga. Masalah
sebesar apapun akan terasa indah, apabila mampu disikapi dengan tepat
dan dilewati dengan kebersamaan.
Kita Hadapi Bersama
Di antara kunci menikmati kebersamaan adalah pada sikap suami dan istri
saat menghadapi permasalahan. “Kita hadapi bersama”, adalah kata
kuncinya. Persoalan suami dan istri harus dihadapi bersama, bukan saling
melempar kesalahan kepada pihak lainnya. Kadang suami merasa benar
sendiri, dan menganggap istri yang salah. Kadang istri merasa selalu
benar, dan suamilah yang salah. Sikap saling melempar ini tidak
produktif, karena menunjukkan ketidakdewasaan sikap hidup berkeluarga.
“Itu masalahmu sendiri, bukan masalahku”, ungkapan seperti ini
menandakan tidak adanya kebersamaan saat menghadapi permasalahan. Bahkan
seandainya masalah tersebut terkait pekerjaan di kantor, atau urusan
yang menyangkut jabatan, profesi, atau posisi di tempat kerja. Suami dan
istri tetap memiliki peran saling meringankan dengan berbagai cara yang
bijak. Bukan intervensi dalam sisi profesional atau jabatan, tetapi
intervensi dalam kaitan moral. Sebagai suami istri, yang harus saling
berbagi, saling meringankan beban, saling membantu dan menjaga.
Masalah apapun akan lebih ringan dihadapi, apabila suami dan istri mampu
menjaga sikap “kita hadapi bersama”. Sikap ini menunjukkan kuatnya
kebersamaan antara suami dan istri. “Ini masalah kita, maka mari kita
hadapi bersama”. Alangkah indah sikap seperti ini. Sebuah kedewasaan
dalam menjalani hidup bersama di dalam rumah tangga. Suami dan istri
saling bergandengan tangan, melewati hari-hari penuh kebahagiaan, karena
mereka mampu merawat kebersamaan.
Today Deal $50 Off :
https://goo.gl/efW8Ef